
Desen Universitas Muhammadiyah Bima, menyoroti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih mengabaikan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Berdasarkan temuan Badan Gizi Nasional (BGN) terdapat puluhan SPPG yang mengabaikan IPAL.
Dosen Fakultas Kesehatan Program Studi Gizi Universitas Muhammadiyah Bima, Aris Iwansyah, M.P.H mengatakan, mendukung sikap BGN yang menonaktifkan operasional SPPG yang masih mengabaikan IPAL. Menurutnya, masalah IPAL tidak boleh dianggap enteng, karena menyangkut higenitas.
Jika lingkungan SPPG tercemar, kata Aris, maka bisa dipastikan itu berdampak pada kegiatan pengolahan makanan. Bahkan bisa memperburuk kualitas makanan dan mengancam kesehatan siswa.
Setiap dapur MBG, kata Aris, harus diberlakukan standar ketat dalam pengolahan makanan. Pengawasan juga harus dilakukan secara berkala. Ini untuk mendukung pemenuhan gizi anak, bukan sebaliknya mengancam kesehatan mereka.
“IPAL adalah masalah serius, SPPG tidak boleh hanya mengejar keuntungan dan mengababaikan aspek kebersihan, sanitasi dan higenitas. Ini masalah hak pemenuhan gizi anak,” tegasnya baru ini.
Kata Aris, dapur MBG di Bima, tidak boleh hanya berorientasi mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, namun mengabaikan aspek higenitas. Terhadap SPPG seperti ini, maka sebaiknya Badan Gizi Nasional bertindak tegas, memutus kontrak, agar menjadi pelajaran bagi dapur MBG yang lain.